Aku menggeliat dan melirik jam tangan yang masih melingkar di lengan kananku, hhhh,,masih jam 7.45 pagi. Oh no, ini masih terlalu pagi, dan nyokap dengan sangat tidak berperasaannya menggedor-gedor kaca warnet. Yap, bukan pintu, tapi kaca, karena berani taruhan dia akan menyesal seumur hidup kalau yang digedornya adalah pintu, jangan harap aku akan bangun. Maka dengan pintar dia menggedor kaca, yang rasa-rasanya akan pecah lima menit lagi kalau kipli, sepupuku tak membukakan pintu untuknya.
Sambil mengerjab-ngerjab aku mengalihkan pandanganku ke sekelilingku, dan sedikit kaget kudapati eyangku tengah tidur lelap tepat disebelahku. Wah, coba saja orang lain, dengan senang hati aku akan menendangnya. Tapi tak kulakukan itu, karena ini eyangku, meskipun dia cowok (NORMAL), aku tak akan takut sama sekali kalau dikurung di sebuah kamar yang gelap gulita bersamanya selama dua puluh empat jam, berani taruhan, dia tak akan melakukan apapun padaku, atau malah mungkin dia akan berusaha membuatku amat sangat nyaman. Hmmm, kalau dibilang dia kayak sodara,kakak,temen,sahabat,ade,kadang-kadang malah kayak kacungku..tapi tenang eyang,aku gak nganggap kamu ditu kok.
Di sebelahnya lagi ku lihat adikku, aku ingat semalam mereka menelponku meminta membuka pintu warnet, tapi aku tak ingat kalau mereka bilang mo ikutan tidur diwarnet bersamaku. Nasib kita ternyata sama, terusir dari kamar kami masing-masing gara-gara sodara nyokap bokap yang naudzubillah banyaknya itu (dan belum semua) pada nginep di rumah untuk persiapan acara ketupat besok. Beberapa tahun belakangan emang udah jadi kebiasaan di rumah nyediain makanan pas hari raya ketupat.
Dengan jelas ku dengar nyokap ngomel panjang lebar di luar sana, menyuruh kami bangun dan membantunya membersihkan rumah yang kena banjir. Air kembali meluap tadi malam. Tapi aku tidak terlalu mengambil perduli, aku malah dengan santainya masuk rumah dan menyuci muka kemudian keluar ke jalan, memperhatikan kondisi lingkunganku yang jalannya masih terendam air banjir.
Puas melihat-lihat aku memutuskan masuk ke rumah dan menonton TV, menanti jam sepuluh, sebelum aku ke kampus dan mengambil undangan untuk acara ramah tamah wisudawan FEB sebentar malam di gedung Aldista. Aku sedikit mual mengingat itu. Ramah tamah di gedung, it's mean rok, high heels, dan make up. Oh no, membayangkan saja membuat isi perutku bergejolak.
Sorenya..
Jam 16.00 aku terbangun dari tidur siangku dan menyadari kalau aku tak punya persiapan apa-apa untuk acara ramah tamah super mahapenting dalam hidupku. Aku punya kebaya, jilbab yang entah akan ku buat bagaimana, tak punya sepatu, dan aku mo make up seperti apa?jiahh...lisptik saja tak punya. untungnya ada dewa penyelamatku, my hero, my princess warrior, ta Noan yang dengan senang hati menyodorkan list sahabat-sahabatnya yang bisa dimintai bantuan untuk make-up dan pinjam sepatu high hels.
Now..23.00
Aku baru pulang dari acara ramah tamah, wua..wajahku kayak abis digebukin, lebam-lebam disebelah mata. Ok, aku akui, itu lebay, karena menurut teman-temanku, aku terlihat cantik dan berbeda malam ini. Iyalah, gimana gak beda, seorang Fia yang tomboy, yang jarang menggunakan sepatu high heels, tiba-tiba pake kebaya, high heels (pinjaman) dan make up. Bahkan anak kecil di kompleksku mengira aku akan merried dengan pakaian seperti itu...Wuahahaha...
Sayang aku tak punya fotonya, tapi semoga teman-teman yang kamera digitalnya tadi hampir penuh sama foto-fotoku akan segera memberikannya padaku sehingga bisa ku pajang disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar